Menatap wajahmu…
Sungguh tiada mampu menahan jemari ini
Untuk tak menyentuh kecantikanmu…
Sekedar menelusuri kening itu…
Menyapu bulu lentik di sepasang kejora itu…
Menuruni lembah dari sepasang pipi ranum itu…
Memuarakan semuanya dengan sentilan lembut di bangirnya hidung itu…
Bibir itu… mengulas senyum kepasrahan termanis…
Mengecup jemari yang singgah sejenak menikmati hangatnya ciuman itu…
Kau Yang Terindah…
Bukan hanya mata ini yang mengatakannya…
Bukan hanya jemari ini yang mengucapkannya…
Bukan juga hasrat ini yang menginginkannya…
Tapi hatiku yang bertalu mengagumi keindahanmu…
Tapi jiwaku yang sontak mentafakuri kecantikanmu…
Tapi kalbuku yang riuh melafatkan namamu di relung cintaku…
Tapi sukmaku yang pasrah dalam gelimang cintamu…
Tapi cinta sejatiku yang mengiringku tuk menyandingmu…
Januari ’10
Penyair Hati



(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Bukan hanya kau, puisi ini juga indah
hebat, lo puisinya =3 saya sampai sekarang selalu merasa kesusahan untuk bikin kalimat-kalimat yang puitis.